Sabtu, 28 Januari 2012

TAKADAMURA 2012

SENSASI TAKADAMURA J

Penjelasan sedikit mengenai TAKADAMURA
ð  Well, TAKADAMURA sendiri adalah kepanjangan dari TAmasya pramuKA SMADA
Acara ini, di adakan dan panitia oleh PRAMUKA SMADA. Acara ini sudah 2x berjalan. Yaitu tahun 2009, dan dilanjutkan oleh angkatan tahun 2011. Formatnya tidak terlalu beda dengan yang sebelumnya. Hanya saja kali ini, peserta yang ikut ialah siswa-siswi SMADA.
Nah, gimana acaranya?? Mereka, para peserta TAKADAMURA, akan ditempatkan disuatu rumah penduduk. TAKADAMURA kali ini, diadakan di desa Sumberwaru kecamatan Binakal, Bondowoso. Dibagi menurut kelompoknya masing-masing. 1 kelompok diisi dengan 3 peserta dan 1 panitia. Setelah sampai dirumah penduduk tersebut, mereka akan berkenalan dengan orang yang ada dirumah tersebut, istirahat sebentar dan langsung mengikuti segala aktifitas yang dilakukan dalam rumah tersebut selama 2 hari 1 malam.
Itulah gambaran singkat tentang TAKADAMURA.
Okeee, sekarang pengalaman yang didapatkan..
INI MENGENAI REALITAS HIDUP.
ð  Bagaimana Kita bisa mengetahui hidup sebenarnya diluar konteks kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Yang dekat dengan kemewahan.
Mungkin dalam sehari-hari, orang seperti kita sudah berkecukupan, bahkan lebih. Kita bisa dapatkan segala dan apa saja yang kita inginkan. Atau mungkin kita bisa membuat ada apa yang jadi impian dan semua yang diharapkan. Dengan mudah atau berusaha sedikit. Menikmati segala kemewahan, kenyamanan fasilitas yang tersedia. TV lah, HP lah, LAPTOP lah, MP3 lah, KOMPUTER lah, JARINGAN dan SINYAL yang mudah kalau SMS atau TELPON. Atau fasilitas memadai lain, blender, rice cooker, kompor gas, sepeda motor, mobil, sepeda.. segalanya yang mempermudah kita.
Berbeda dissini, kita berusaha lepas dari itu semua. Hidup tanpa segala yang memadai dan beralih ke arah lebih kuno sedikit.


ð  Disini, kita belajar sederhana, memanfaatkan segalanya seberguna dan seefektif mungkin.
Menghidupkan TV, charging HP/LAPTOP, mengoperasikan KOMPUTER, memakai blender,dll.. itulah yang kita lakukan setiap hari dan addict terhadap semua dan tak terlepas dari kehidupan itu...
Tapi Apapun yang penduduk guankan didesa, mereka sangat sederhana dan minim. Bahkan dalam hal listrik, terkadang hanya menggunakan lampu kuning berdaya 5 watt. 1 lampu dalam 1 rumah.. kalau bisa dibilang, jangankan charging HP, lampu pun sangat sederhana sekali. Mana bisa??


ð  Management diri, waktu dan pengeluaran juga.
Tidur setelah pulang sekolah atau waktu tidak menemukan pekerjaan, dengerkan MP3 waktu luang, maen game buat nenangin diri, nonton TV ngilangin stress, surving, browsing internet, SMSan, Nelpon.. beli jajan, habiskan uang sangu, jalan-jalan sama temen, beli pulsa. tiap hari kita seperti itu kan??
Sekali lagi, tapi disini, kita bahkan hampir tidak mungkin sesantai itu yaaa. Ya bisa sih, tapi tidak menutup kemungkinan sebebas seperti yang kita lakukan biasa. Kenapa?? Kalau diwaktu luang, mereka (penduduk desa tsb) tidak istirahat, tidur, seperti yang kita lakukan. Tapi mereka melakukan sesuatu yang berguna dan bisa menghasilkan jasa dan mendapatkan imbalan. Mereka adalah tipe orang bekerja keras.
Masalah pengeluaran?? Mungkin kalau dilihat, mereka tidak seperti kita yang seperti aku jelasin. Tapi, mereka lebih ke meminimalkan pengeluaran sehari-hari. Lebih ke memanfaatkan sumber daya sekitar yang bisa digunakan daripada membeli lain. Makan pun, sering mereka kalau pergi kehutan atau pergi kesawah, mereka  menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk keperluan makan, mereka mengambilnya.

ð  Menghargai apa arti hidup sebenarnya dengan rasa saling berbagi..
Penduduk disana, mereka hidup saling bergotong royong, yahh, sesuatu yang khas di negara kita tercinta, Indonesia. Hidup bersama tanpa memandang siapa saja dan dengan siapa mereka hidup. Walaupun bersama seseorang yang asing bagi mereka, mereka tetap menghargai dan lebih menghormati siapapun itu. Dalam hal berbagi?? Mereka sudah menanamkan prinsip satu untuk semua mungkin. Karena, karena rasa memiliki bersama yang mereka punyai, segala sesuatu yang ada yang dipunyai,orang lain yang notabene bukan siapa-siapa mereka tapi tetap saja diperbolehkan menggunakan atau menjadikan bersama apa yang mereka miliki. Hal yang manis jika dirasakan.

Bagaimana kita bisa merasakan hidup orang lain tanpa kita menyentuh apapun yang menurut kita menarik. Tidak ada barang elektronik, fasilitas lebih memadai. Hidup sederhana!! Itulah prinsipnya.
Bukan bermaksud menjadikan belajar jadi orang miskin! Tapi lebih menunjukkan, inilah hidup yang sederhana. Tidak selalu bergantung pada apapun yang modern dan mengglobal. Mungkin dengan tidak menggunakan fasilitas modern yang menjadi bahan hidup kita sehari-hari kita. Apa yang kita rasakan?? Yakk, menghemat sebagian besaar daya listrik yang kita pakai perhari dirumah. Dan lain-lain yang menyangkut hal seperti ini.
Kalau kita bilang kita tidak akan dapat apa-apa selain souvenir yang didapatkan, itu salah besar!!!
Coba perhatikan seksama, “Pengalaman”.. kurang apa sih yang bisa didapatkan bahkan diamalkan dari mengikuti sebentar kehidupan sehari-hari mereka. Banyak, mau diterapkan di kehidupan kita? Silahkan.. baik malah...
Kalau kita bisa menerapkan sedikit demi sedikitt dan mengambil pelajaran dari peserta yang mengikuti acara ini, mulai dar efisiensi dan menghargai waktu, management diri, menekan pengeluaran, hidup rukun sesama, gotong royong, dan lain-lain yang mungkin kalau disebutkan satu persatu semmuanya itu banyak!!!! Dan artinya apa? Bisa jadi digunakan untuk mengevaluasi diri kita sendiri, supaya kedepannya lebih baik dan kita mendapatkan masa depan yang sesuai J


PENGALAMAN SINGKAT
(aku, peserta TAKADAMURA)

          Waktu TM acara TAKADAMURA itu, aku disebutkan kalau mendampingi kelompok luluk, sultan windy. Tapi ternyata ditukar oleh panitia lain, dan aku mendampingi ratna, wirda, jenia J
          Acaranya tanggal 22-23 Januari 2012, berangkat hari Minggu jam 6 pagi. Tapi ternyata aku datang tidak sesuai jadwal karena masih ada LATPIM OSIS yang waktunya bertabrakan. Well, tapi jam 12.30 aku nyusul ke lokasi acara.

       Hari pertama..
          Sampai di desa lokasi, langsung menuju balai desa. Naruh motor dan langsung ke rumah warga yang akan aku tempati. Nahh, ketemu dah sama kelompokku. Tapi ternyata aku memang terlambat. Mereka sudah turun ke sawah tadi pagi. Alhasil aku udah nggak ngapa-ngapain. Hanya melanjutkan menyusun besek (tempat ikan) yang memang kayaknya desa itu jadi sentra pembuatan besek. Soalnya hampir semua warganya berprofesi sebagai pembuat besek. Bahkan banyak warga yang ngisi waktu kosong bukan untuk istirahat, tapi ya membuat besek itu.. Aku nggak bingung waktu buat tu besek, soalnya pas survei, panitianya udah duluan buat kayak gitu :D
          Setelah buat besek sebentar, ternyata bu Rais nyuruh masak buat makan malam. Hmm, kita masak deh. Tadi mbak yu udah ambil kangkung disawah kayaknya yang rencana mau ditumis juga ada jamur yang bakal kita jadiin sop. Oh ya.. sebelumnya kita beli tahu kering itu di warung. Kita berempat beribet daa nyiapin semua bumbu mulai ngulek-ngulek, bilas jamur, goreng tahu, dll. Tapi satu persatu dibikin. Yang jadi pertama itu tumis kangkung, kedua sop jamur, ketiga tahu goreng itu.
          Dannn, sudah jadi semua, nyiapkan diruang tamu dan tinggal makan sama semuanya. Selesai makan, kita cuci piring (aku sama wirda) dan yang lain gantian wudhu.
          Nahh, gantian juga deh kita wudhu dan nunggu maghrib mau solat di langgar bareng warga lain tuu. Solat maghrib selesai dan berdoa yang dipimpin imam. Emang mungkin faktor nggak tidur sehari yaa.. waktu doa itu aku terkantuk kantuk. Sempet itu, tidur sambil silo duduk deh, sampe bangun diliat sama anak kecil –a. Selesai doa, harusnya nunggu sampe isya, tapi berhubung aku udah low stamina, aku mau balik ke rumah bu Rais mau rebahan. Ngajak tu dah yang lainnya dikamar dan nunggu isya. Setelah solat isya dan lega, ternyata kita ngelanjutin buat besek. Ratna yang buat dasar beseknya, aku, jeni ngerangkai beseknya, bu Rais yang nali keliling dan Wirda yang motong sisa kayu yang lebih. Semuanya itu dikerjakan waktu malam hari. Dan aslinyawaktu itu aku ngantuk, tapi yaa dipaksa, aku kan pengen ngebantu juga ngerasain juga rasanya kerja buat besek malem-malem itu. Haaaaaaaaa, masih belum berhenti waktu itu, bi Rais dan lainnya juga nyuruh berenti, tidur.
          Yaaaaa, ternyata bahan yang buat ngayam besek itu habis, ya kehabisan bahan gitu. Terpaksa deh kita berenti buat beseknya. Kita berempat tidur dah malem itu selesai membuat besek itu. Ehhh yaaa, tadi tu rasanya buat besek ngantuk banget. Matanya kayak yang mau pejem terusss. Tapi rasanya waktu udah sampe tempat tidur itu, ngantuknya ilang yah. Ngapain kita? CERITA....  cerita sembarang dah, semuanya yang kelewat di akal. Film lah, orang lah, segalanya dah... sampe gak kepikiran waktu mau tidur tu. Si mbah juga, kasian kali sama kita yaaaaa. Dia bolak balik ke kamar kita buat ngasih sewek buat selimut. Padahal kita loh udah bawa selimut. Kalo nggak salah, kita tuh melek sampe jam sebelas deh. Yaa, akhirnya satu persaatu pada nyerah. Si Ratna yang tidur duluan, giliran jeni, baru aku wirda :D

       Hari kedua....
          Pagi-pagi kita bangun, subuh itu dah. Tapi ternyata yang bangun Cuma si Ratna, kita mbangkong laa, mungkin karena kita tidur maleman. Nunggu Ratna selese mandi, orang tiga ini pulas lagi :D. Setelah nunggu bentar, gantian deh kita ke kamar mandi. Selese wudhu semua, nggak langsung ke langgar soalnya nggak enak kita datengnya telat. Jadi deh nunggu Ratna balik. Okee, Ratna balik, ganti kita yang ke langgar buat solat subuh. Udah agak sepi sih..




          Selese solat, planning lanjut itu masak, kita rencana masak nasi goreng. Tapu bu Rais bilang kita masak mi goreng aja. Jadi, sama tempe, tahu sama kebetulan tadi ibu beli ikan laut. Baru makanan mau siap, ada pengumuman ternyata, kalo panitia takadamura disuru kumpul ke balai. Yaaaa, tapi disuru makan dulu. Hmmmmmm.. selese masak, makan deh J dan nggak lupa piring dicuci. Baru mau jalan ke balai, satu panitia dateng ke rumah bilang kalo kita (panitia dan peserta) dijadwalkan kumpul di balai, ambil baksos jam 10.00 dan siap-siap pulang jam 11.00. haaaaa planning buat ke hutan sama mbah gagal deh --a
          Oh yaa, si mbah bilang, kita mau ke hutan, jadi kan bawa bekal *rencana gagal*. Ganti deh, Ratna ngajak aku ke thalita buat ngomongin masalah baju baksos. Ternyata, ibu bilang kalo anak-anak kumpul ke rumah depan, ternyata iyaaa. Tapi kita mampir bentar dan langsung ke balai.
          Ke balai sebentar, ternyata aku, Ratna diajak si Makruf ke dam sama yang laennya. Ikut aja deh. Jalan baru bentar, ditengah udah pada ngumpul yang lain. Kita kepikiran buat ngajak si wirda sama jeni. Balik ke rumah dan ngajak. Di jalan kita ketemu peserta lain, yaa kita ajak juga deh J. Ngumpul dirumah warga, kita langsung jalan dengan guide warga situ. Jalan ke dam emang becek soalnya semalem abis hujan tu apalagi di sawah.
          Pemandangan emang bagus, kiri jalan udah langsung bisa liat bukit ijoooo :0 SUBHANALLAH!!!! Nggak berenti dah tu foto jepret-jepret. Jalan ati-ati, soalnya kanan itu sungai kecil, kiri udah sawah.
          Dan....... jalan berapa menit, sampe dah di dam. Emang bagusss!!! Hebooh yang foto itu deh orang-orang. Ehh, ternyata ada yang inisiatif  buat manjat itu bukit. Jalan terus, yang dibelakang pada ngikut. Awalnya mau balik soalnya nggak tau jalan kemana. Ehh, ada mas guide tu mau ngasih jalan, jadinya lanjut dah.



          Jalan asli becek nggak ketulungan. Kiri kann tanaman duri itu, licin lagi. Yang cewek pada meronta-ronta. Yang depan pada sukses naek atas. Kalo nggak salah ngitung, mendaki kesana itu satu jam. Nyampe puncak aja udah seneng. Tapi yang namanya baju kotor, salah pake putih lagi L.
          Orang-orang ini emang kayaknya Cuma mau naik turun bukit deh. Buktinya nyampe puncak bukannya mau berenti istirahat, ee, malah lanjut maksa turun. Padahal kali dua ini udah capek :o dan terpaksa ngikut lanjut. Jalan terus, nyari kemana bisa turun. Awalnya bingung, kepleset berapa kali ya waktu itu.. tapi yang didepan akhirnya nemu jalan keluar. ALHAMDULILLAH!!! Terusss itu turuni bukit. Eh yaa, awal jalan aku make sepatu, tambah kaos kaki, asli nggarai kepleset. Dihasut, iyadeh copot sepatu, dan untung satu peserta mau megangin sepatuku, aku megang kaos kakiku. Hehe. Jalan gak kayak yang diharapkan, berbatu tajam, bersemut jejer banyak dan guide Ratna bilang harus ati-ati soalnya ada kalajengking!!! Sepanjang jalan, liat bawah mulu sambil bisik “auwwww” “auwww” soalnya ya itu, batunya tajam dan paling liat kiri kanan jalan Cuma sedetik, balik lagi liat bawah.



          Ehhh, guide Ratna teriak lagi, bilang, “udah nyampeee!!!” buru-buru dah mau nyampe. Ternyata.. BELOM, masih belom keliatan bawah. Ketipu sama gubuk disitu. Walhasil, lanjut deh kebawah ==a. Nggak berapa lama, kita keliatan sama bapak-bapak lagi membajak sawah pake sapinya tu. Artinya udah nyampe bawah J . ehh, kita kan ngelewati arus sungai tu, jadi kita berenti bentar. Nunggu yang lain sekalian bersihkan sepatu, celana, kaki, tangan yang kotor tuh.sama sharing sedikit. Nunggu bentar, yang lain kan udah nyampe, kita sedikit foto dan ngelanjutin jalan ke balai desa. Buat ngambil barang baksos, balik ke rumah, beres-beres dan pulang.
          Nyampe rumah, bu Rais bilang, kenapa kita nggak laporan dulu kalo mau kehutan, soalnya kan bisa dibuatin makan juga sekalian tuh. Yaaa, tapi kita kan juga mendadak kesananya. Gak ada planning tuh.
          Okee, tinggal nunggu bersihkan diri semua, siap-siap. Setelah itu, kita foto-foto bareng bu Rais sekeluarga. Tapi tanpa si mbah, soalnya dia udah tadi pagi ke hutan L. Itulah waktu kita pamitan pulang. Pisah sama keluarga bu Rais.
          Dari situ, kita bisa dapet banyak pengalaman, kesempatan mempelajari hidup orang lain, dan belajar dan berupaya menerapkan apa yang tersirat dari semua itu di hidup kita J

          Dan selesailah perjalanan dan sensasi TAKADAMURA kali ini.






TERIMAKASIH SEMUA
·         ALLAH SWT.
·         Panitia TAKADAMURA, PRAMUKA SMADA 2011-2012
·         Dewan guru dan pembina
·         Peserta TAKADAMURA kelas 10, 11 SMADA
·         Abang pramu yang mendukung
·         Warga desa Sumberwaru, Binakal, Bondowoso
·         Bu Rais dan keluarga (yang menjadi tempat saya bermalam bersama kelompok saya)

WASSALAMUALAIKUM WR. WB.

Sabtu, 21 Januari 2012

CURHAT BARENG AYAH...

CURHAT PADA AYAH
GIMANA YAA??



Remaja, bisa dibilang ini adalah fase dimana seseorang yang labil, ingin cari tahu, ada yang bilang pencarian jati diri. Dimana banyak banget masalah yang bakal mereka hadapi. Sekolah, masyarakat, teman, orang spesial, pokoknya dimana aja, sama siapa aja. Nggak jarang seorang remaja itu butuh teman untuk dijadikan tong sampah curhatnya. Mereka harus benar-benar jeli buat nyari siapa aja yang akan dilimpahi luapan perasaannya. Atau salah-salah temannya bisa ngebocorin rahasia yang sangat penting kesemua orang. Ahhhhh.. what a terrible!!!
Ada, ada kok orang yang bakal ngejaga rahasia kita baik banget. Pasti pada tahu kan... yak, orang tua, pertama pasti para teens bakal bilang “IBU” sebagai orang pertama  yang dianggap paling enak buat curhat dan meluapkan segala sesuatunya dari mereka. Dan juga “paling aman” buat jaga rahasia. Ibu bakal ngasih seabrek solusi, saran, kritikan halus.. pokoknya yang bisa ngelegain hati kita deh.. kaena apa.. banyak yang bilang kalo ibu itu punya rasa kasih sayang yang tinggi, perasaan lembut, peka terhadap anaknya, dan pokoknya best solver dehh.. remaja cewek, remaja cowok, umumnya juga sama, mereka punya masalah dan curhatnya sebagian besar ke ibu kan..
Ada yang bilang, satu anak dan satu ibu = best friend, atau ada yang bilang ibu itu adalah our greatest fan ever bener banget yak, kita gak bakalan lepas dari ibu kita sekalipun kita sudah dewasa. Ibu memberi semua yang positif deh, rasanya plong kalau udah cerita ke ibu yaaa.
Ibu itu bisa memberi motivasi lebih, meskipun terkadang saran yang diberikan itu nggak sesuai sama keinginan kita, tapi kalau kita yakin itu efeknya baik pada masalah kita, yakin deh, apa yang jadi masalah kita bakal  terselesaikan. Oh yaa, temenku pernah bilang, “seburuk-buruknya saran adalah sepandai-pandai kita untuk mempelajari saran tersebut dan diterapkan ke masalah kita” J

Nah, sekarang gimana kalau bapak/ayah/papa??
Buka deh saya sekarang.. pasti banyak teens yang bilang, “aku nggak match cerita sama ayah”, kenapa? Padahal kalau diperhatikan, pengalaman yang dilalui ayah itu lebih banyak, lebih luas daripada ibu. Biasanya ayah bakal ngasih pendapat dengan ngeliat pengalaman beliau.  Kita tau kan, kadang tanggepan ayah kalau kita cerita itu dengan nada tinggi, sedikit marah. Mungkin hal itu yang ngebuat kita kurang nyaman kalo cerita tentang masalah kita sama ayah.

Mungkin ini beberapa hal yang ngebuat para teens jarang cerita ke ayah:
Ø  Ada ibu, mending cerita ke ibu daripada ayah...
Kayak yang aku bilang tadi, ibu pasti lebih care daripada ayah. Ibu itu lebih menggunakan perasaan kalo lagi nyelesein masalah. Jadi kita pasti ngerasa dingin, tenang dengan kata2 lembut dari dia. Ayah, mungkin dia lebih melihat ke pengalamannya dalam menyelesaikan masalah, dia kurang menggunakan perasaan sebagai solver. Tapi kalau si anak mau mempeerhatikan dan menelaah baik-baik apa yang disampaikan ayah, kita pasti tahu inti dari solver yang ayah kita berikan pada kita.

Ø  Ibu lebih sering dirumah daripada ayah.
Sebagian besar ibu, adalah ibu rumah tangga, sehingga sering menghabiskan wawktu dirumah untuk mempersiapkan segala kperluan rumah tangganyaaa.. nah, maka dari itu, waktu yang dihabiskan ibu dirumah digunakan oeh kebanyakan anak untuk membahas masalah-masalah mereka kepada sang ibu

Ø  Dari masalah tampang, mungkin ibulah yang menang dalam hal muka dan perasaan. Sebagian teens berpendapat kalo ayah itu seram kalau marah atau mungkin mukanya yang kurang bisa memperhatikan masalah anaknya sendiri. Jadi spekuasi seperti itu yang membuat seorang anak mungkin malas untuk bercurah kepada ayah....

Ø  Ayah itu sibuk...
tau sendiri kan semuanya.. ayah itu tuang punggung keuarga. Pasti setiap hari bekerja menafkahi keuarganya. Pulang, tapi pasti capek, beliau istirahat. Yahh, jadi ngerasa kita gak bisa cerita.

Ø  Perasaan teens sih,
Pasti ayah itu masa bodoh sama masalah privasi kita, yaaa, mungkin kalo udah masalah sama guru, dan lain-lain dah, pokoknya masalah yang agak rumit. Pasti beliau bukannya nyeesein masalah, mungkin bakal marahin kita atau nyalahin kita sebakgai peaku atas masalah itu. Haduuuuu......

Nah,, mungkin itu sebagian dari berapa faktor yang dialami oleh teens kalo masalah curhat sama ayah. Eamng rumit sihhh, pasti juga bingung mau gimana. Tapi kita juga harus ngerti lohh, dari semua yang diberikan ayah, pasti mengandung seabrek arti dan makna. Kan di aatas udah aku jelasin yaaa, ayah itu ebih banyak pengalamannya. Jadi mereka pasti lebih memahami apa yang kita bicarakan.

Di balik semua yang kita bilang, “ayah itu pake acara marah kalo nasihati kita” hmmm, itu sih saah. Pasti kalian tau tentang kata “kasih sayang”. Jangan membandingkan ayah sama ibu. Mereka beda. Dari hal apapun termasuk hati J.

Ayah ngeakuin semua itu pasti punya dasar.. mereka sayang sama anaknya dan gak mau kejadian apa2 sama anak tersayangnya.. mereka marah, karena kita salah. Mereka menasihati kita. Kita anggap aja beliau gak marah, tapi memperingatkan kita apa yang terjadi kalau kita melakukan kesalahan tersebut..

Hmmm, sekarang gimana tanggapan kalian tentang curhat kepada seorang ayah???