Menyikapi hal-hal yang sering terjadi saat ini seiring
menyebarnya demam era globalisasi. Mungkin bukan hal yang asing lagi, melainkan
lumrah. Bukan hanya dari kalangan remaja saja, tapi manusia kecil yang
dimaksudkan anak-anak dengan range umu 5-10 pun banyak yang terserang demam
ini. Tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka-mereka sudah memang hidup di
kalangan dan zaman yang berubah dari dulu. Dari yang masih kolot ke modern. Dari
sesuatu yang manual menjadi otomatis. Dari yang hampa menjadi sesak. Itulah konsekuensi
hidup di zaman ini.
Tapi ironinya, semua hal-hal yang disampaikan di atas bukan
hanya menyerang satu sisi saja, misal pemakaian gadget. Yang disana disini
sudah sama terjadi kemajuannya. Tapi merambah ke ranah yang lebih luas. Dan kali
ini tulisan blog ini mengangkat hal lain yang mungkin sudah terjadi di
kebanyakan orang, OPTIMISME (part 1) , SUGESTI (part 2), USAHA (part 3), DOA (part 4)
OPTIMISME untuk kata yang satu ini, saya mendefinisikan
sebagai “suatu keyakinan atas segala sesuatu yang akan kita capai”. Bukan hanya
dari keyakinan tapi cara kita juga untuk menyikapi hal-hal apa yang terjadi ke
depan. Rata-rata, orang-orang hanya menyikapi suatu tantangan dengan melihat
dari apa yang sudah dikerjakan. Kalau mereka sudah mengerjakan sesuatu hal
dengan baik, keyakinan mereka atas hasil yang akan dicapai sangatlah besar. Mereka
berasumsi dengan pemikiran baik atas kerjaan tersebut dan mereka akan dan pasti
berhasil. Memang, itu adalah bentuk optimisme. Tapi optimisme condong. Maksud saya,
dia tidak memikirkan baik buruknya berharap sesuatu yang mungkin nantinya bisa
terjadi. Apapun bisa terjadi karena segala hal sudah ada yang mengatur. Hal buruk
bisa saja terjadi dan tidak ada yang tahu bagaimana nanti hasil yang didapat
itu. Apa yang akan terjadi apabila orang tersebut tidak mendapatkan hasil yang
dia dapatkan dari semua yang sudah baik dikerjakan ditambah optimisme
condongnya? Banyak orang yang akhirnya hanya menelan kekecewaan tanpa menyadari
dan menyikapi hal itu dengan baik. Mereka tidak langsung meresapi dan
memperbaiki mind setting dan suasana hati. Tapi yang ada dari sebagian mereka
adalah rasa kecewa karena mereka hanya menilai dari satu sisi. “sudah berusaha
maksimal dan optimis pasti berhasil tapi ujung-ujungnya gagal”
Bagaimana mengatasinya dan apa yang seharusnya dikerjakan?
Mind setting yang baik harus ada dan terpupuk bersamaan
dengan rasa optimisme. Karena mind setting yang baik pasti akan membentuk
paerasaan hati yang baik setelah dia melakukan suatu usaha. Apapun hasil yang
nantinya didapat. Yang ini saya sebut optimisme lurus. Karena lewat jalan ini
semua hal positif bisa terbentuk. Mulai dari cara menyikapi hasil, pikiran yang
bisa dikontrol dan perasaan yang bisa dirasakan nantinya. Apapun hasilnya. Jika
hasilnya baik, sikap yang dilakukan bisa senyum dengan tenang. Bersyukur dengan
hasil yang dipegang, berusaha keep humble. Berfikiran positif dengan berkata
itu semua adalah hasil kerja keras, optimisme dan anugrah tuhan yang
didapatkan. Perasaan tenang dan tidak kelewat senang yang sampai mengeluarkan
ekspresi heboh diri sendiri.
Dan mind setting
bersama optimisme yang baik bisa menjadi bekal untuk pondasi semangat saat kita
gagal mendapatkan sesuatu yang harapkan dari perjuangan keras yang kita anggap
baik. Seseorang dengan mind setting dan optimisme baik akan menyikapi kegagalan
dengan lapang dada, sabar. Atau beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai
suatu anugerah yang tertunda yang apabila dia tidak mendapat kesempatan kali
ini, lain kali dia akan menuai hasil yang lebih baik dan besar. Contohlah Frank Slazak. Semangat, motivasi
dan optimismenya yang saya akui hebat. Memang bukan diawal usaha, tapi di akhir
hasil, dia berusaha mengambil hikmah dari semua kejadian yang dialami. Dia berkata
:
TUHAN menjawab doa kita dg 3 cara :
1. TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA
YG KITA MINTA,
2. TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendptkan yg
LEBIH BAIK,
3.
TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendptkan yg TERBAIK sesuai dg
kehendak-NYA.
Entah mungkin ada beberapa kontroversi dari cerita yang
dialami frank slazak, saya hanya mengagumi yang dia katakan. Bisa menjadi
motivasi untuk optimisme lurus yang akan kita lakukan. baik sewaktu kita
berhasil meraih dari apa yang kita kerjakan atau saat kegagalan yang kita
terima.
Atau mungkin para viewers bisa membaca salah satu quotes
dari American spiritual author satu ini, yaitu Orison Sweet Maden. :
“keberhasilan tidak
diukur dengan apa yang anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan
keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang
bertubi-tubi”
Quote yang sangat baik dan super untuk bisa menanamkan
keyakinan atas optimisme lurus yang harus kita lakukan untuk menghadapi apa
yang akan kita kerjakan dan apa yang akan kita dapatkan kesimpulan saya Jadikan
keberhasilan untuk menorehkan keberhasilan lain yang lebih besar dan jadikanlah
kegagalan sebagai batu loncatan dari rintangan untuk mencapai keberhasilan yang
baik mendatang.
Mungkin hanya sedikit tulisan ini yang bisa saya sampaikan. Semoga
bermanfaat!