Mengatakan sesuatu itu lebih mudah daripada mengerjakannya
=========================================================================
Mulut.. memang anugrah terbesar yang diberikan Allah pada kita. Hal apapun yang berkaitan dengan hidup dapat tersampaikan kepada orang lain dengan idera satu ini. Berguna sekali bagi kita untuk menyatakan sesuatu, mengomando seseorang, memerintah, memberitahu hal yang penting, dan segalanya. Tak heran kalau mulut ini menjadi satu hal yang wajib dipunya oleh orang-orang seperti kita. Dan bersyukurlah kalian jika memilikinya dan Allah telah memberi anugrah ini.
Sepenggal kata ini mungkin harus dipahami jeli oleh semua orang. Yaaa.. semuanya, tak terkecuali kita. Ada satu dari manusia ketika dia memiliki kemampuan dan indera lengkap mengenai mulut untuk berbicara atau mengatakan sesuatu. Ada etika sendiri yang harus dilakukan dalam masyarakat. Entah itu kepada yang lebih tua, lebih muda atau sebaya sekalipun. Memang benar, ada beberapa perbedaan cara penyampaian. Kepada yang lebih tua kita harus lebih sopan, halus, hormat. Untuk yang lebih muda, kita harus bernada menyayangi, mendidik, dsb. Dan yang terakhir terhadap sebaya. Sulit? Iyaaa, karena kita atau sebagian orang merasa, kalau sebaya itu punya kesamaan pemikiran dalam menyampaikan sesuatu, bebas bercanda. Ulas??? Okeee..Mungkin memang sebagian ran g berpandangan seperti itu. Tapi kenyataan? Tidak semua orang mau diperlakukan seperti itu bahkan untuk temannya sendiri. Karena ini mengenai perasaan dan perbedaan persepsi dalam menangkap sesuatu.
Pelaku pembicara mungkin bisa seenaknya ngomong nyerocos ke orang lain tanpa memandang perasaan akan lawan bicaranya. Tapi yang jadi objek pembicara bisa aja nggak terima akan omongannya dan bahkan tersinggung. Contoh aja, “ehh, kamu tu ya harusnya kerja yang agak becus la. Masak daritadi ndak bisa kerja sendiri. Maunya dibantu” “kamu tu, bisa ndak seh kerja, masak kamu salah tok” “hehh, ini kan programmu, kenapa kamu nyerahkan ke orang lain?” “coba kamu pikir, salah siapa kalau waktunya keteteran gini?” “weh, kamu tau ini sangat nggak berhasil. Aku kecewa sama acara ini”
Itu contoh beberapa dialog. Kalo diperhatikan, emang itu lebih ditujukan sama teman sebaya. Gaya bahasanya maksah!! Kalo orang yang dapet kata itu tipenya supel, mungkin biasa aja. Tapi gimana pembahasannya tentang orang yang sensi? Gampang tersinggung? Pasti akan menyakitkan. Walau dalam konteksnya mungkin “BERCANDA” tapi kalau kebangetan, dan salah persepsi. Akan terjadi sedikit ketidaksinambungan.
Apalagi yang menyampaikan itu punya kesalahan fatal yang dia tidak sadari. Misal dia mengkritik hal ini, tapi sebenarnya andil dia tidak begitu berapa dengan perjuangan orang yang dia kritik. Apalagi dengan bahasa kasar dan tanpa pemikiran logis mengenai apa yang telah terjadi dalam hal itu. Dia seenaknya mengatakan dan kritik sedemikian rupa, tapi dalam konteks yang sebenarnya, “APA DIA BISA MENAGAE DAN MENGATURNYA?” padahal sebenarnya hal yang dipermasalahkan itu sangat sulit, memiliki beberapa aturan untuk dikerjakan dan TIDAK MUDAH. Mungkin akan menjadi hal memalukan, pathetic, fussy, humiliation, semuanya deh. Apa akibatnya? Melukai perasaan orang lain, iya. Efek buruk terhadap pandangan terhadap dirinya dimata orang lain, iya. Hubungan tidahk harmonis,iya, dsb.
Selain hal ini bisa dikaitkan dengan quote yang saya buat diatas sendiri itu, ada kata lain yan bisa dijadikan bahan. Kalau dia yang menjadi lakon dari kesalahan nbicara itu bisa diibaratkan sebagai lilin. Artinya, dia itu bisa bicara apa saja yang dilakukan orang lain yang menurut dia berguna padahal dia sudah menghancurkan dirinya sendiri dengan apa yang dilakukannya. Seperti lilin, “Menerangi segalanya, tapi membakar bahkan mengahancurkan lilin itu sendiri.APAKAH ANDA TIPE ORANG SEPERTI ITU????
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar